Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW. Dalam hidup keseharian pernah terjadi, tetapi tidak terlalu sering di jaman modern ini ditangkap dan diperkarakan serta dipenjarakan, orang-orang yang mengaku dokter atau ahli medis, kemudian mereka membuka praktek, ternyata mereka tidak pernah menginjak dan mengenyam dan lulus dari pendidikan dokter atau ahli medis, sehingga praktek pengobatan yang dilakukan adalah sebuah keberanian yang luar biasa untuk mengelabuhi masyarakat untuk mencari keuntungan materi lewat kedok pengobatan kedokteran. Pernahkan kita memperhatikan orang-orang mu’alaf dan kemudian masuk Islam dan dengan terang-terangan menyatakan dirinya menyatakan sebagai seorang Islam. Mereka itu kadang telah bertahun-tahun memendam sebuah keyakinan kuat dalam hatinya bahwa Islam adalah agama yang benar. Namun mereka belum mampu mengungkapkan secara terang-terangan. Dalam masa kegundahan tersebut biasanya mereka terus menerus sibuk menekuni Ajaran Islam, Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga biasanya kegundahan mereka semakin memuncak, kegundahan untuk dapat segera secara terang-terangan menyatakan dirinya sebagai pemeluk agama Islam walaupun kemudian dikucilkan oleh masyarakat mereka.
Segala puji hanya bagi Allah, banyak orang-orang mualaf, orang-orang yang lahir dari keluarga non muslim, atas kehendak Allah SWT, telah ditunjuki oleh Allah untuk masuk Islam dan menekuni Al-Qur’an dan As-Sunnah, kemudian mereka menjadi seorang muslim yang berkwalitas dan berbobot dan lebih sempurna cara beragamanya dibanding orang-orang yang mengaku Islam yang lahir dari keluarga Islam.
Perlu bagi kita setiap keluarga Muslim menyadari sesadar-sadarnya, bahwa Islam yang tersemat di dalam diri kita dan di dalam anak turun kita adalah suatu nikmat Allah yang sangat besar dan perlu untuk selalu ditingkatkan baik, penghayatan dan pengamalanya sepanjang perjalanan hidup kita masing-masing.
Al-Islam agama Allah, agama yang diakui oleh Allah sebagai Agama Allah sepanjang masa, sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya
.
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. 16:36)
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS. 3:19)
Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. 3:85)
Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atau segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (QS. 22:78)
.
Allah sangat menyayangi umat manusia, agar mereka menyembah kepada Allah Tuhan semesta Alam, Tuhan yang Esa dan tidak menyekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang lain. Termasuk mengamalkan syari’at-syari’at yang telah dituntunkan dalam Islam dan meninggalkan syari’at-syari’at yang datang dari selain Agama Islam.
.
Katakanlah:”Hai orang-orang kafir!” (QS. 109:1)
aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah (QS. 109:2)
Dan kamu bukan penyembah Ilah yang aku sembah (QS. 109:3)
Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah (QS. 109:4)
dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah (QS. 109:5)
Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku (QS. 109:6)
Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (QS. 42:13)
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah. Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (QS. 42:21)
.
Sangat-sangat ganjil dan sangat-sangat aneh dan memang menjadi sangat-sangat-sangat aneh, ketika seorang yang mengaku Islam namun tidak pernah mau menekuni ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah di sepanjang perjalanan hidupnya.
Sebagaimana ‘itibar seorang dokter gadungan yang menjadi aneh dalam pandangan dokter-dokter yang sebenarnya. Namun dalam suasana terbalik, banyak orang-orang yang awam menganggab aneh orang-orang yang tekun belajar Al-Qur’an dan As-Sunnah dan kemudian konsekwen dalam mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka kemudian mereka mendapat julukan yang macam-macam, apakah itu fundamentalis, ekstremis, fanatik, kebablasan, dll. dan berbagai macam sebutan yang dibuat untuk memojokkan dan mengasingkan mereka. Demikianlah mahalnya nilai kebenaran yang haqiqi dan mahalnya harga Surga di sisi Allah SWT.
Dapat kita tanyakan kedalam hati kita masing-masing, bagaimana bila seorang dokter yang telah belajar dengan tekun di kampus-kampus sampai 15 th, dan kemudian lulus hingga tingkat spesialis 2, dan kemudian sangat teliti dan konsekwen dengan ilmunya dan mengetrapkan ilmunya dalam menyembuhkan pasien-pasiennya, apakah mereka sama dengan orang-orang yang telah mengaku sebagai dokter yang ternyata dokter gadungan??
Memang cara beragama masyarakat pada umumnya hingga saat ini masih jauh dari metodologi ilmiah modern. Dalam ilmu modern, bahwa sebuah pengamalan ilmu itu berdasar pada sumber-sumber yang kuat dan benar.
Bagaimana jika seseorang mengaku Islam namun tidak pernah mau belajar dengan sunguh-sungguh dengan ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan kemudian hanya mengikuti adat istiadat cara beragama yang telah membudaya di tengah-tengah masyarakat, yang tidak diketahui dengan pasti sumber asal usulnya ?, Siapakah yang lebih dipercaya? Al-Qur’an dan As-Sunnah ataukah adat istiadat yang tidak jelas sumbernya?, Jangan sampai seorang Islam menyesali diri di akhir hayatnya ketika menabrak dinding jalan buntu yang menjadikan mereka sengsara di akherat
.
(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. (QS. 4:123)
Katakanlah:”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya” (QS. 18:103)
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS. 18:104)
Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (QS. 18:105)
Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. (QS. 57:13)
.
Semoga Allah menyadarkan kepada seluruh umat manusia yang telah mengaku beragama Islam, agar mereka segera sadar untuk selalu mengilmui,menghayati dan mengamalkan dari apa-apa yang dipelajari dari al-Qur’an dan as-Sunnah, dan segera berhenti dari perilaku yang sangat-sangat ganjil dan sangat-sangat aneh, mengaku dokter tanpa sekolah dokter, mengaku orang muslim tidak pernah menekuni belajar Al-Qur’an dan as-Sunnah, sungguh suatu keganjilan yang sangat-sangat-sangat ganjil, semoga Allah menunjuki kita semua untuk menjadi manusia yang mau meninggalkan keganjilan yang menyesatkan tersebut. Wallahu a’lam.
Kamis, 09 Desember 2010
Meningalkan Keganjilan-Keganjilan Dalam Beragama.
Senin, 06 Desember 2010
5 Besar Dosa di Malam TAHUN BARU
Perayaan tahun baru tidak diragukan lagi merupakan perayaan yang mulanya dilakukan oleh orang-orang kafir dan sudah menjadi tradisi mereka dari tahun ke tahun. Sejarah menyebutkan bahwa perayaan tahun baru pertama kali diadakan pada 1 Januari 45 SM, tepat setahun setelah tewasnya Julius Caesar, penguasa Romawi yang menjadi pelopor kalender baru masehi ini.
Sekarang perayaan orang-orang kafir ini sudah menjadi tradisi juga di kalangan kaum muslimin, sungguh menyedihkan. Padahal padanya terdapat beragam dosa yang bisa mengundang kemurkaan Allah. Di sini kami menyebutkan 5 besar di antaranya:
Pertama: Mengikis Aqidah Islam
Perayaan tahun baru adalah sikap tasyabbuh (meniru-niru) kepada orang kafir, banyak di antara kita saling mengucapkan “Selamat Natal dan Tahun Baru”. Ini tidak terjadi kecuali karena adanya kekaguman atau kecintaan terhadap tradisi mereka. Jika demikian, sungguh hal ini telah menyentuh ranah aqidah dan mengikisnya. Ini adalah bencana yang besar bagi umat Islam. Karena lambat laun tanpa kita sadari, aqidah yang terkikis tidak lagi tersisa sehingga jadilah kita bagian dari kekafiran mereka, na’uudzubillaah.
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [Hadits Shahih, riwayat Ahmad –Abu Daud]
Anas bin Malik mengatakan,
كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, 'Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.” [Hadits Shahih, riwayat an-Nasa-i no. 1556]
Dari Abu Sa'id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” [5]
Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah (1/441) mengatakan:
“Adapun memberi ucapan selamat pada syi'ar-syi'ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal dan tahun baru,-pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma' (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, 'Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu', atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid'ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta'ala.”
Kedua: Terjebak ke Dalam Bid’ah.
Sementara itu orang-orang yang prihatin terhadap kondisi muda-mudi Islam dalam perayaan tahun baru ini justru mengatakan, “Untuk membendung hancurnya moral putra-putri kita, kita adakan saja perayaan detik-detik pergantian tahun di masjid, dengan dzikiran dan tahlilan.” Ada lagi yang mengusulkan, “Agar lebih menarik, kita undang band lokal untuk menyanyikan nasyid islami.”
Tanpa di sadari, justru kita telah membuat syari’at baru yang menandingi syari’at Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, padahal beliau tidak pernah mensyari’atkannya. Inilah hakikat bid’ah yang tercela sekalipun pelakunya berniat baik.
Ibnu Mas'ud pernah berkata ketika mengingkari orang-orang yang beralasan dengan “niat baik” ketika mengadakan dzikir layaknya paduan suara di masjid:
وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ
“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.” [Riwayat ad-Darimi dengan sanad yang Jayyid (bagus)]
Ketiga: Meninggalkan Sholat
Tidak sedikit kaum muslimin yang mengorbankan sholat subuh demi merayakan momen setahun sekali ini. Seolah itu bukanlah kemaksiatan besar.
Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” [Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha: 7]
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengancam dengan kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat.
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” [Hadits Shahih, Misykatul Mashobih: 574]
Keempat: Merebaknya Zina dan Khomr
Sudah menjadi rahasia umum, jika malam tahun baru adalah malam untuk berzina dan mabuk-mabukan. Malam ini adalah malamnya para pecandu seks, khomr, dan narkoba.
Allah ta’ala berfirman tentang zina (artinya):
“Janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya ia adalah perbuatan keji dan jalan yang sangat buruk.” [QS. al-Israa: 32]
Sedangkan untuk segala hal yang bisa memabukkan dan menghilangkan akal (khomr dan narkoba), Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:
لاَ تَشْرَبِ الْخَمْرَ فَإِنَّهَا مِفْتَاحُ كُلِّ شَرٍّ
“Janganlah engkau meminum segala sesuatu yang memabukkan, karena sesungguhnya ia adalah pintu segala macam keburukan.” [Hadits Shahih, riwayat Ibnu Majah: 3371]
Kelima: Menganggu Muslim Lainnya Perayaan tahun baru tidak pernah sunyi dari hingar bingar pesta musik dan suara-suara terompet yang memekakkan telinga di tengah malam. Ini jelas merupakan kezhaliman terhadap kaum muslimin yang tengah beristirahat atau melakukan shalat malam.
Ingatlah sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.” [Bukhari-Muslim]
Demikianlah pembaca yang dirahmati Allah, lima besar dosa di malam tahun baru. Di samping kelima hal di atas, perayaan tahun baru jelas tidak ada manfaatnya bagi seorang muslim, boros dan buang-buang waktu saja. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” [Hadits Shahih, riwayat at-Tirmidzi]
Renungkanlah ucapan emas seorang Ibnul Qoyyim berikut ini:
“Menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.” [al-Fawaa-id: 33]
Haram Merayakan Natal dan Tahun Baru
Allah swt. telah memuliaakan umat ini dengan Islam, dan memerintahkan-nya untuk mengimplementasikan-nya. Dia telah menurunkan Islam sebagai cara hidup yang unik. Sebuah pola yang berbeda dalam masalah konsepnya dan peraturan-peraturannya, sebagai sesuatu yang sempurna dan sistem menyeluruh yang mengatur semua urusan kehidupan. Allah swt. berfirman: "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..." (QS Ali Imran 3 : 110)
Namun, sejak Islam diabaikan dari kehidupan sehari-hari sebagai sebuah sistem peraturan, umat telah melaksanakan hal-hal yang buruk dan semakin bertambah buruk; aturan orang-orang kafir telah diimplementasikan atas umat ini dan konsep-konsep kufur telah mendominasi mereka. Invasi barat dengan budaya busuk dan hina dina itu telah berhasil merusak dien Islam, moral umat dan menjadikannya tak bernilai. Slogan barat telah di adopsi oleh kaum Muslimin melalui perayaan-perayaan dan festival-festival barat. Budaya rusak barat ini telah dibantu oleh para penguasa yang mengabdikan dirinya untuk memisahkan Islam dari kehidupan dan melakukan perang pemikiran dan menanamkan konsep-konsep buruknya, kemudian memaksa umat untuk masuk pada apa yang barat selalu inginkan, yakni menjadi individu yang sekuler.
Salah satu dari banyak konsep budaya yang dipaksakan oleh barat atas kaum Muslimin adalah perayaan natal dan tahun baru. Kita memohon pada Allah swt. agar tidak membiarkan diri kita melihat suatu hari dimana kaum Muslimin merayakan hari jadi orang-orang Yahudi (hari raya Yahudi) dan juga melakukan perayaan Natal.
Ini sungguh menyedihkan dan ironis sekali untuk menyaksikan dengan mata sendiri kejadian dan mendengar berita tentang pembunuhan masal, pengusiran dan penghinaan terhadap kaum Muslimin di tangan barat pada hari Natal, musuh-musuh Islam di seluruh penjuru dunia, sambil sebagian kaum Muslimin di negeri ini diundang oleh orang-orang Amerika dan orang Kristen lain-nya masuk ke dalam rumah mereka untuk merayakan natal dan tahun baru. Tentu saja, ini seharusnya tidak terjadi sebagai sebuah goncangan kepada kita sejak umat ini kehilangan pelindungnya yang menjalankan urusannya dengan Islam, melindunginya dari serangan konsep-konsep kufur dan menjalankan peraturan-peraturang diennya, memeliharanya sebagai sebuah perintah Allah swt., sebuah umat yang khas.
Wahai kaum Muslimin! Itu (Perayaan atau mengucapkan natal & tahun baru) adalah sesuatu yang dilarang oleh syariah untuk ambil bagian dalam perayaan orang-orang kafir, dan untuk mencontoh mereka dalam masalah dien (agama). Al-Bukhari meriwayatkan dalam shahih-nya melalui Abu Sa'id Al Khudri r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda :
"kamu akan mengikuti cara-cara dari orang-orang yang sebelum kamu sehasta demi sehasta dan selangkah demi selangkah, walau pun mereka memasuki lubang biawak kamu akan mengikuti mereka". Kami berkata: "Wahai Rasulullah, apakah yang kamu maksud (mengikuti) Yahudi dan Nasrani?" beliau menjawab: "Siapa lagi?"
Dalam Hadits ini Rasulullah mengejek orang-orang yang meniru orang-orang kafir, dan itu adalah sebuah hujjah (dalil/alasan syar'i) bahwa itu (merayakan natal dan tahun baru) adalah haram (tertolak), baik untuk mengikuti mereka dalam perayaan natal dan seremonial-seremonial lainnya mereka. Itu juga jelas bahwa perayaan seremonial orang-orang kafir dan perayaan ulang tahun mereka berarti meniru mereka dan Islam telah menolaknya. Rasulullah saw. telah memberi peringatan kepada kita untuk menolaknya. At-Tirmidzi meriwayatkan melalui Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda:
" Bukan seseorang dari kita (kaum muslimin) yang meniru suatu kaum, jangan meniru orang-orang Yahudi dan Nasrani."
At-Tabrani meriwayatkan melalui Ibnu Umar dan Hudaifah bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Siapa yang mengikuti suatu kaum akan menjadi salah satu dari mereka."
Itu juga merupakan bagian dari teks syariah bahwa itu adalah tertolak bagi seorang Muslim yang telah mempunyai hari raya nya sendiri yaitu I'edul Fitri dan I'dul Adha. Al-Baihaqi meriwayatkan dalam 'Sunan'-nya dari Anas Bin Malik yang berkata :
" Rasulullah saw. datang ke Madinah pada saat orang-orang Madinah mempunyai dua hari pada masa jahiliah (sebelum Islam) yang mereka rayakan, maka beliau saw. berkata: "Aku datang kepadamu pada saat kamu mempunyai 2 hari dari masa jahiliah yang kamu rayakan, dan Allah swt. telah menggantikannya 2 hari ini dengan dua hari yang lebih baik: hari raya Kurban dan hari Fitri."
Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Uqbah Ibnu Amir bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Dan kami mempunyai hari Fitri, hari Kurban dan hari Tasyriq adalah hari besar kami orang-orang Muslim."
Teks-teks ini disajikan sebagi hujjah yang jelas bahwa itu tertolak bagi kaum Muslimin untuk mempunyai perayaan selain dari pada apa yang telah Allah swt. putuskan. Mereka (kaum muslimin) selanjutnya tertolak untuk ambil bagian dalam perayaan orang-orang kafir, dari perayaan seperti upacara mereka, adalah sesuatu yang tertolak seperti menghadiri perayaan mereka, walau pun mereka mengundang. Seperti cara upacara akan menghantar kepada kerusakan dan pemutusan mereka akan menjadi sebuah kesempatan bagi setiap orang-orang fasiq untuk melakukan perbuatan yang berdosa, seperti mengkonsumsi alkohol dan obat-obat terlarang. Media masa yang ada cenderung pada peristiwa ini untuk menayangkan program-program yang mempunyai selera yang buruk dan semua jenis ketidaksopanan dan kerusakan. Mereka mencemari pemikiran orang-orang dan mengikis segala jenis moral yang baik, martabat, dan kesucian mereka.
Wahai kaum Muslimin! Umat akan terus-menerus tertekan di bawah konsep orang-orang kafir dan akan terus terdominasi. Mental kaum Muslimin akan terus tebentuk sesuai dengan sudut pandang orang-orang barat, kecuali kita mulai membuang semua pemahaman barat yang ada pada diri kita dan berjuang untuk menegakkan Khilafah Rasyidah, yang akan mengimplementasikan kitab Allah swt. dan sunnah Rasul-Nya saw., dan akan menumbangkan ketidakadilan, penguasa tiran dan kerusakan yang tampak atas kaum Muslimin, yang kemudian sebagai hasilnya orang-orang kafir akan kehilangan kekuatan dan identitas mereka.
Selanjutnya, itu adalah untuk khilafah bahwa kita menyeru kepada mu (kaum muslimin) untuk memperjuangkannya, wahai kaum Muslimin! Rasulullah saw. bersabda:
"Imam (pemimpin) itu adalah pelindung dimana orang-orang berperang dan terlindung dengannya." (Shahih Bukhari)
Hukum Ucapan “Selamat Natal” dan Merayakan Tahun Baru
Fenomena yang terjadi di Negeri kita ini,yang sangat kita sayangkan bersama dimana banyak orang Islam memberi ucapan selamat natal kepada kaum kristen/nasrani.,Tengok pula perayaan tahun baru masehi, naudzubillah yang memperingati dan merayakannya mayoritas ummat Islam, padahal semua itu diharamkan.Saya menurunkan fatwa dan tulisan para ulama ahlus sunnah yakni: Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta, Syaikh Ibn Utsaimin dan Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan. Dilembar depan ini saya kutipkan sebagian fatwa Ibn Utsaimin ketika ditanya tentang ucapan “Selamat Natal” sebagai berikut:
“Mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir dengan ucapan selamat natal atau ucapan-ucapan lainnya yang berkaitan dengan perayaan agama mereka hukumnya haram, hukum ini telah disepakati. Sebagaimana kutipan dari Ibnul Qayyim dalam bukunya Ahkam Ahl Adz-Dzimmah, yang mana beliau menyebutkan, Adapun ucapan selamat terhadap simbol-simbol kekufuran secara khusus,disepakati hukumnya haram. misalnya,mengucapkan selamat atas hari raya atau puasa mereka dengan mengatakan, ‘Hari yang diberkahi bagimu’ atau ‘Selamat merayakan hari raya ini’ dan sebagainya. Yang demikian ini,kendati si pengucapnya terlepas dari kekufuran,tapi perbuatan ini termasuk yang diharamkan,yaitu setara dengan ucapan selamat atas sujudnya terhadap salib,bahkan dosanya lebih besar di sisi Allah dan kemurkaan Allah lebih besar daripada ucapan selamat terhadap peminum khamr, pembunuh, pezina atau lainnya,karena banyak orang yang tidak mantap agamanya terjerumus dalam hal ini dan tidak mengetahui keburukan perbuatannya. Barangsiapa mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena kemaksiatan,bid’ah atau kekufuran,berarti ia telah mengundang kemurkaan dan kemarahan Allah.’ Demikian ungkapan beliau.
Haramnya mengucapkan selamat kepada kaum kuffar sehubungan dengan hari raya agama mereka,sebagaimana dipaparkan oleh Ibnul Qayyim,karena dalam hal ini terkandung pengakuan terhadap simbol-simbol kekufuran dan rela terhadap hal itu pada mereka walaupun tidak rela hal itu pada dirinya sendiri. Kendati demikian,seorang muslim diharamkan untuk rela terhadap simbol-simbol kekufuran atau mengucapkan selamat terhadap simbol-simbol tersebut atau lainnya,karena Allah سبحانه و تعالى tidak meridhainya, sebagaimana firmanNya:
إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ
“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hambaNya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” [QS. Az-Zumar: 7]
Dalam ayat lain disebutkan:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu “ [QS. Al-Ma'idah : 3]
Maka, mengucapkan selamat kepada mereka hukumnya haram, baik itu ikut serta dalam pelaksanaannya maupun tidak.
Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka kepada kita, hendaknya kita tidak menjawabnya,karena itu bukan hari raya kita,bahkan hari raya itu tidak diridhai Allah سبحانه و تعالى, baik itu merupakan bid’ah atau memang ditetapkan dalam agama mereka………………
Jangan Nodai Bulan Muharram
Muharram adalah nama bulan yang telah ditetapkan di Arab sejak pra kenabian. Kemudian oleh Rasulullah saw perhitungan tahun ini diadopsi dan dilanjutkan. Meskipun demikian, saat itu belum dimulai perhitungannya sehingga tahun-tahun biasanya dinamai dengan peristiwa terpenting yang terjadi pada tahun itu, seperti tahun gajah, tahun kesedihan, dan lain-lain. Baru ketika Umar bin Khaththab menjadi khalifah, perhitungan tahun itu dimulai dengan mendasarkan pada hijrahnya nabi saw dari Makkah ke Madinah.
Sedangkan Sura adalah salah satu nama bulan dari tahun Çaka, nama ini berasal dari mitologi Hindu-Jawa, Aji Çaka. Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa kedatangan orang-orang Hindu di Jawa menandai dimulainya zaman baru, yaitu zaman Aji Çaka yang menurut perhitungan mereka zaman itu bersamaan dengan tahun 78 Masehi. Oleh sebab itu, tahun Çaka dan tahun Masehi berselisih 78 tahun.
Puluhan tahun berikutnya, ketika Mataram ada di bawah pemerintahan, Sultan Agung Hanyokrokusumo, ia berinisiatif untuk memperbaiki penanggalan Caka. Maka kemudian tanggal 1 Muharram 1043 H (8 Juli 1633 M) ditetapkan sebagai tanggal 1 Suro tahun Alip (1555 Caka baru atau Çaka-Jawa).
Persepsi yang Salah
Bulan suro adalah bulan penuh musibah, bencana, kesialan, bulan keramat dan sangat sakral. Itulah berbagai tanggapan masyarakat mengenai bulan Suro atau bulan Muharram. Sehingga kita akan melihat berbagai ritual untuk menghindari kesialan, bencana, musibah dilakukan oleh mereka.
Karena bulan ini adalah bulan sial, sebagian orang tidak mau melakukan hajatan nikah, dsb. Jika nekat melakukan hajatan pada bulan ini bisa mendapatkan berbagai musibah, acara pernikahannya tidak lancar, mengakibatkan keluarga tidak harmonis, dsb. Itulah berbagai anggapan masyarakat mengenai bulan Suro dan kesialan di dalamnya.
Sebagian kaum muslimin saat ini ketika menghadapi kesulitan dalam hidupnya, mereka malah mencari berkah dari para “kyai”. Pada hari yang dikatakan sakral oleh sebagian kaum muslimin, terdapat suatu kenyataan yang sangat memilukan yang menunjukkan kekurangan akal. Hari tersebut adalah tanggal siji suro (1 Muharram). Sebagian kaum muslimin yang selalu menginginkan kemudahan dalam hidupnya dan ingin mencari kebaikan malah mencarinya dengan cara yang tidak masuk akal.
Mereka mencari berkah dari seekor hewan, yakni dengan begadang mengikuti jalannya, saling berebut untuk mendapatkan kotorannya tersebut, lalu menyimpannya, seraya berkeyakinan rizki akan lancar, panen akan melimpah, jodoh segera datang dan usaha akan berhasil dengan sebab kotoran tersebut. Seorang yang punya akal sehat tentu tidak mungkin melakukan hal yang demikian.
Jika ditanya mereka menjawab, ini hanya budaya saja kog….opo eleke?yen gak suka ojo ngelek-ngelek. Ada juga yang berlandaskan, Rasulullah SAW pernah diambil keringat dan rambutnya untuk tabaruk (ngalap berkah), jadi sekarangpun juga bisa dong…ada lagi alasan : kami 100% percaya gusti Allah dan ini hanyalah ’sarana’ mendekatkan diri biar lebih cepat terkabul. Dan berbagai alasan lainnya. Sehingga bagi umat yang hatinya kosong, ketauhidan kurang dan ilmu yang minim akan mudah terjebak mengikuti hal-hal tersebut.
Kesimpulannya adalah jauhi syirik. Tinggalkan budaya dan keyakinan yang tidak shahih berkaitan dengan bulan Muharram. Perbanyak amal termasuk puasa Sunnah seperti yang akan di bahas di bawah ini.
Puasa Tasu’a dan ‘Asyura’
Tasu’a ialah hari yang ke-9 dari bulan Muharram, sedang ‘Asyura’ adalah hari yang ke-10 dari bulan tersebut.
Semoga bermanfaat..
Sedangkan Sura adalah salah satu nama bulan dari tahun Çaka, nama ini berasal dari mitologi Hindu-Jawa, Aji Çaka. Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa kedatangan orang-orang Hindu di Jawa menandai dimulainya zaman baru, yaitu zaman Aji Çaka yang menurut perhitungan mereka zaman itu bersamaan dengan tahun 78 Masehi. Oleh sebab itu, tahun Çaka dan tahun Masehi berselisih 78 tahun.
Puluhan tahun berikutnya, ketika Mataram ada di bawah pemerintahan, Sultan Agung Hanyokrokusumo, ia berinisiatif untuk memperbaiki penanggalan Caka. Maka kemudian tanggal 1 Muharram 1043 H (8 Juli 1633 M) ditetapkan sebagai tanggal 1 Suro tahun Alip (1555 Caka baru atau Çaka-Jawa).
Persepsi yang Salah
Bulan suro adalah bulan penuh musibah, bencana, kesialan, bulan keramat dan sangat sakral. Itulah berbagai tanggapan masyarakat mengenai bulan Suro atau bulan Muharram. Sehingga kita akan melihat berbagai ritual untuk menghindari kesialan, bencana, musibah dilakukan oleh mereka.
Karena bulan ini adalah bulan sial, sebagian orang tidak mau melakukan hajatan nikah, dsb. Jika nekat melakukan hajatan pada bulan ini bisa mendapatkan berbagai musibah, acara pernikahannya tidak lancar, mengakibatkan keluarga tidak harmonis, dsb. Itulah berbagai anggapan masyarakat mengenai bulan Suro dan kesialan di dalamnya.
Sebagian kaum muslimin saat ini ketika menghadapi kesulitan dalam hidupnya, mereka malah mencari berkah dari para “kyai”. Pada hari yang dikatakan sakral oleh sebagian kaum muslimin, terdapat suatu kenyataan yang sangat memilukan yang menunjukkan kekurangan akal. Hari tersebut adalah tanggal siji suro (1 Muharram). Sebagian kaum muslimin yang selalu menginginkan kemudahan dalam hidupnya dan ingin mencari kebaikan malah mencarinya dengan cara yang tidak masuk akal.
Mereka mencari berkah dari seekor hewan, yakni dengan begadang mengikuti jalannya, saling berebut untuk mendapatkan kotorannya tersebut, lalu menyimpannya, seraya berkeyakinan rizki akan lancar, panen akan melimpah, jodoh segera datang dan usaha akan berhasil dengan sebab kotoran tersebut. Seorang yang punya akal sehat tentu tidak mungkin melakukan hal yang demikian.
Jika ditanya mereka menjawab, ini hanya budaya saja kog….opo eleke?yen gak suka ojo ngelek-ngelek. Ada juga yang berlandaskan, Rasulullah SAW pernah diambil keringat dan rambutnya untuk tabaruk (ngalap berkah), jadi sekarangpun juga bisa dong…ada lagi alasan : kami 100% percaya gusti Allah dan ini hanyalah ’sarana’ mendekatkan diri biar lebih cepat terkabul. Dan berbagai alasan lainnya. Sehingga bagi umat yang hatinya kosong, ketauhidan kurang dan ilmu yang minim akan mudah terjebak mengikuti hal-hal tersebut.
أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS. Az Zumar : 3)Kesimpulannya adalah jauhi syirik. Tinggalkan budaya dan keyakinan yang tidak shahih berkaitan dengan bulan Muharram. Perbanyak amal termasuk puasa Sunnah seperti yang akan di bahas di bawah ini.
Puasa Tasu’a dan ‘Asyura’
Tasu’a ialah hari yang ke-9 dari bulan Muharram, sedang ‘Asyura’ adalah hari yang ke-10 dari bulan tersebut.
عَنْ عَائِشَةَ رَض قَالَتْ : كَانَتْ قُرَيْشٌ تَصُوْمُ عَاشُوْرَاءَ فِى اْلجَاهِلِيَّةِ وَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَصُوْمُهُ. فَلَمَّا هَاجَرَ اِلَى اْلمَدِيْنَةِ صَامَهُ وَ اَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ شَهْرُ رَمَضَانَ، قَالَ: مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَ مَنْ شَاءَ تَرَكَهُ. البخارى و مسلم و الترمذى و ابو داود و ابن ماجه و احمد و مالك و الدارمى
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Adalah kaum Quraisy berpuasa ‘Asyura’ pada masa jahiliyah dan Rasulullah SAW juga berpuasa. Maka setelah berhijrah ke Madinah, beliau tetap berpuasa ‘Asyura’ dan memerintahkan pada para shahabat untuk berpuasa pada hari itu. Maka setelah diwajibkan puasa di bulan Ramadlan, lalu beliau bersabda, “Barangsiapa yang ingin berpuasa ‘Asyura’ silakan berpuasa, dan barangsiapa yang ingin meninggalkannya silakan tidak berpuasa”. [HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Malik dan Darimiy]عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ اَبِى سُفْيَانَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِنَّ هذَا يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ وَ لَمْ يُكْتَبْ عَلَيْكُمْ صِيَامُهُ وَ اَنَا صَائِمٌ. فَمَنْ شَاءَ صَامَ وَ مَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ. البخارى و مسلم
Dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya hari ini adalah hari ‘Asyura’ tetapi tidak diwajibkan atas kamu puasa hari ini, sedang aku berpuasa. Oleh sebab itu, barangsiapa ingin berpuasa silakan berpuasa, dan barangsiapa ingin tidak berpuasa, silakan tidak berpuasa”. [HR. Bukhari dan Muslim]عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَض قَالَ : قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ الْمَدِيْنَةَ فَوَجَدَ اْليَهُوْدَ يَصُوْمُوْنَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَسُئِلُوْا عَنْ ذلِكَ، فَقَالُوْا: هذَا اْليَوْمُ الَّذِيْ اَظْهَرَ اللهُ فِيْهِ مُوْسَى وَ بَنِيْ اِسْرَائِيْلَ عَلَى فِرْعَوْنَ، فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ تَعْظِيْمًا لَهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: نَحْنُ اَوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ فَاَمَرَ بِصَوْمِهِ. البخارى و مسلم و الترمذى و ابو داود و ابن ماجه و احمد و الدارمى
Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata : Ketika Rasulullah tiba di Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa ‘Asyura’. Lalu mereka ditanya (Rasulullah SAW) tentang hal itu. Maka jawab mereka, “Hari ini adalah suatu hari yang Allah memberikan kemenangan kepada Nabi Musa dan bani Israil atas Fir’aun, maka kami berpuasa pada hari ini untuk mengagungkannya”. Lalu Nabi SAW bersabda, “Kalau begitu kami lebih berhaq terhadap Nabi Musa daripada kalian”. Kemudian beliau memerintahkan untuk berpuasa ‘Asyura’. [HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimiy]عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض يَقُوْلُ: حِيْنَ صَامَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَ اَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظّمُهُ اْليَهُوْدُ وَ النَّصَارَى. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: فَاِذَا كَانَ اْلعَامُ اْلمُقْبِلُ اِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا اْليَوْمَ التَّاسِعَ. قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ اْلعَامُ اْلمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفّيَ رَسُوْلُ اللهِ ص. مسلم و ابو داود
Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata : Ketika Rasulullah SAW berpuasa ‘Asyura’ (hari ke sepuluh) dan beliau memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, para shahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah suatu hari yang diagung-agungkan oleh kaum Yahudi dan Nashara”. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Jika aku masih hidup sampai tahun depan, insya Allah kami akan berpuasa Taasi’a (hari ke sembilan). Ibnu ‘Abbas berkata, “Ternyata belum sampai tahun berikutnya beliau telah wafat”. [HR. Muslim dan Abu Dawud]عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَض اَنَّ اَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوْا يَصُوْمُوْنَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص صَامَهُ وَ اْلمُسْلِمُوْنَ قَبْلَ اَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ. فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللهِ ص: اِنَّ عَاشُوْرَاءَ يَوْمٌ مِنْ اَيَّامِ اللهِ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَ مَنْ شَاءَ تَرَكَهُ. البخارى و مسلم و ابو داود و ابن ماجه و احمد و الدارمى
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA, bahwasanya orang-orang di masa jahiliyah mereka berpuasa ‘Asyura’ dan bahwa Rasulullah SAW beserta kaum muslimin juga berpuasa pada hari itu ketika belum diwajibkan berpuasa Ramadlan. Maka ketika sudah diwajibkan berpuasa Ramadlan Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ‘Asyura’ itu adalah satu hari diantara hari-harinya Allah. Maka barangsiapa ingin berpuasa hendaklah ia berpuasa, dan barangsiapa yang ingin tidak berpuasa, silakan tidak berpuasa”. [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimiy]و فى لفظ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَئِنْ بَقِيْتُ اِلىَ قَابِلٍ لاَصُوْمَنَّ التَّاسِعَ. مسلم
Dan dalam satu lafadh, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kalau aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku berpuasa hari ke-9 (bulan Muharram)”. [HR. Muslim]عَنْ اَبِى سَعِيْدِ اْلخُدْرِيّ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ غُفِرَ لَهُ سَنَةٌ اَمَامَهُ وَ سَنَةٌ خَلْفَهُ. وَ مَنْ صَامَ عَاشُوْرَاءَ غُفِرَ لَهُ سَنَةٌ. الطبرانى فى الاوسط باسناد حسن
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa ‘Arafah, diampuni baginya (dosanya) setahun yang lalu dan setahun berikutnya. Dan barangsiapa yang berpuasa ‘Asyura’, diampuni baginya (dosanya) satu tahun”. [HR. Thabrani, di dalam Al-Ausath dengan sanad hasan]Semoga bermanfaat..
Langganan:
Postingan (Atom)



