Senin, 27 Desember 2010

Meracik Prestasi Amal Unggulan

Sobat, keimanan yang yang sudah kita proklamirkan tidaklah hanya penghias bibir dan sekedar label tanda pengenal. Allah swt berjanji memberikan testing berupa ujian dan ajakan, apakah kita benar-benar mempunyai iman yang berkualitas.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ (٢)وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS.29:2-3)

Allah swt memberikan hadiah yang amat sangat tiada duanya disaat nanti. Suatu waktu yang tidak bisa mengelak, tidak bisa kembali ke dunia dan hanya pertolongan Allah-lah yang berlaku, just it!. Hadiah tersebut adalah ridho kepada makhluk untuk melenggang masuk ke dalam jannah (syurga). Sebaliknya, bagi yang mempunyai iman palsu akan berkumpul di suatu tempat hina yakni neraka.

Sobat, kita baru saja diingatkan tahun baru hijriyah. So, berkurang sudah jatah umur kita..marilah kita renungi. Apakah yang sudah kita lakukan sampai detik ini, hidup sia-siakah? Hidup tanpa kesungguhan dalam beramal shaleh-kah? Ataukah beribadah dengan seenaknya sendiri? Ataukah telah berusaha menekuni amal-amal sehingga berprestasi di mata Allah swt?

Sobat pasti ingat dengan sahabat Bilal Ra, yang senantiasa shalat sunnah setiap kali selesai berwudhu sehingga suara terompahnya sudah dikabarkan “terdengar” di surga oleh Nabi SAW. Atau Abu Dzar yang senantiasa menjaga wasiat Nabi SAW selama hidup untuk tidak meninggalkan 3 hal: 2 rakaat sunnah Dhuha, puasa 3 hari dalam sebulan dan shalat witir sebelum tidur. Dan juga kisah-kisah shahih lain yang terjadi pada suatu generasi terbaik, yakni generasi para shabat Rasulullah SAW. Dan tentunya sebagai pengikut menjadi kita wajib untuk mencontoh dan mengobarkan motivasi untuk mengikuti jejaknya.

Masih ingatkah kisah 3 orang istimewa yang berteduh di goa, kemudian atas kehendak Allah swt pintunya menjadi tertutup batu dan tidak bisa dibuka kembali. Berkat prestasi dalam amalan mereka, Allah swt berikan solusi dan bantuan langsung. Simak hadist berikut :

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عُقْبَةَ قَالَ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَمَا ثَلَاثَةُ نَفَرٍ يَتَمَاشَوْنَ أَخَذَهُمْ الْمَطَرُ فَمَالُوا إِلَى غَارٍ فِي الْجَبَلِ فَانْحَطَّتْ عَلَى فَمِ غَارِهِمْ صَخْرَةٌ مِنْ الْجَبَلِ فَأَطْبَقَتْ عَلَيْهِمْ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ انْظُرُوا أَعْمَالًا عَمِلْتُمُوهَا لِلَّهِ صَالِحَةً فَادْعُوا اللَّهَ بِهَا لَعَلَّهُ يَفْرُجُهَا فَقَالَ أَحَدُهُمْ اللَّهُمَّ إِنَّهُ كَانَ لِي وَالِدَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ وَلِي صِبْيَةٌ صِغَارٌ كُنْتُ أَرْعَى عَلَيْهِمْ فَإِذَا رُحْتُ عَلَيْهِمْ فَحَلَبْتُ بَدَأْتُ بِوَالِدَيَّ أَسْقِيهِمَا قَبْلَ وَلَدِي وَإِنَّهُ نَاءَ بِيَ الشَّجَرُ فَمَا أَتَيْتُ حَتَّى أَمْسَيْتُ فَوَجَدْتُهُمَا قَدْ نَامَا فَحَلَبْتُ كَمَا كُنْتُ أَحْلُبُ فَجِئْتُ بِالْحِلَابِ فَقُمْتُ عِنْدَ رُءُوسِهِمَا أَكْرَهُ أَنْ أُوقِظَهُمَا مِنْ نَوْمِهِمَا وَأَكْرَهُ أَنْ أَبْدَأَ بِالصِّبْيَةِ قَبْلَهُمَا وَالصِّبْيَةُ يَتَضَاغَوْنَ عِنْدَ قَدَمَيَّ فَلَمْ يَزَلْ ذَلِكَ دَأْبِي وَدَأْبَهُمْ حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ لَنَا فُرْجَةً نَرَى مِنْهَا السَّمَاءَ فَفَرَجَ اللَّهُ لَهُمْ فُرْجَةً حَتَّى يَرَوْنَ مِنْهَا السَّمَاءَ وَقَالَ الثَّانِي اللَّهُمَّ إِنَّهُ كَانَتْ لِي ابْنَةُ عَمٍّ أُحِبُّهَا كَأَشَدِّ مَا يُحِبُّ الرِّجَالُ النِّسَاءَ فَطَلَبْتُ إِلَيْهَا نَفْسَهَا فَأَبَتْ حَتَّى آتِيَهَا بِمِائَةِ دِينَارٍ فَسَعَيْتُ حَتَّى جَمَعْتُ مِائَةَ دِينَارٍ فَلَقِيتُهَا بِهَا فَلَمَّا قَعَدْتُ بَيْنَ رِجْلَيْهَا قَالَتْ يَا عَبْدَ اللَّهِ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تَفْتَحْ الْخَاتَمَ فَقُمْتُ عَنْهَا اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي قَدْ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ لَنَا مِنْهَا فَفَرَجَ لَهُمْ فُرْجَةً وَقَالَ الْآخَرُ اللَّهُمَّ إِنِّي كُنْتُ اسْتَأْجَرْتُ أَجِيرًا بِفَرَقِ أَرُزٍّ فَلَمَّا قَضَى عَمَلَهُ قَالَ أَعْطِنِي حَقِّي فَعَرَضْتُ عَلَيْهِ حَقَّهُ فَتَرَكَهُ وَرَغِبَ عَنْهُ فَلَمْ أَزَلْ أَزْرَعُهُ حَتَّى جَمَعْتُ مِنْهُ بَقَرًا وَرَاعِيَهَا فَجَاءَنِي فَقَالَ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تَظْلِمْنِي وَأَعْطِنِي حَقِّي فَقُلْتُ اذْهَبْ إِلَى ذَلِكَ الْبَقَرِ وَرَاعِيهَا فَقَالَ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تَهْزَأْ بِي فَقُلْتُ إِنِّي لَا أَهْزَأُ بِكَ فَخُذْ ذَلِكَ الْبَقَرَ وَرَاعِيَهَا فَأَخَذَهُ فَانْطَلَقَ بِهَا فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ مَا بَقِيَ فَفَرَجَ اللَّهُ عَنْهُمْ

“Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu Maryam telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim bin ‘Uqbah dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Suatu ketika 3 orang laki-laki sedang berjalan, tiba-tiba hujan turun hingga mereka berlindung ke dalam suatu gua yang terdapat di gunung. Tanpa diduga sebelumnya, ada sebongkah batu besar jatuh menutup mulut goa dan mengurung mereka di dalamnya. Kemudian salah seorang dari mereka berkata kepada temannya yang lain; ‘lngat-ingatlah amal shalih yang pernah kalian lakukan hanya karena mengharap ridla Allah semata. Setelah itu, berdoa dan memohonlah pertolongan kepada Allah dengan perantaraan amal shalih tersebut, mudah-mudahan Allah akan menghilangkan kesulitan kalian.

Kemudian salah seorang dari mereka berkata; ‘Ya Allah ya Tuhanku, dulu saya mempunyai dua orang tua yang sudah lanjut usia. Selain itu, saya juga mempunyai seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil. Saya menghidupi mereka dengan menggembalakan ternak. Apabila pulang dari menggembala, saya pun segera memerah susu dan saya dahulukan untuk kedua orang tua saya. Lalu saya berikan air susu tersebut kepada kedua orang tua saya sebelum saya berikan kepada anak-anak saya. Pada suatu ketika, tempat penggembalaan saya jauh, hingga saya baru pulang pada sore hari. Ternyata saya dapati kedua orang tua saya sedang tertidur pulas. Lalu, seperti biasa, saya segera memerah susu. Saya berdiri di dekat keduanya karena tidak mau membangunkan dari tidur mereka. Akan tetapi, saya juga tidak ingin memberikan air susu tersebut kepada anak-anak saya sebelum diminum oleh kedua orang tua saya, meskipun mereka, anak-anak saya, telah berkerumun di telapak kaki saya untuk meminta minum karena rasa lapar yang sangat. Keadaan tersebut saya dan anak-anak saya jalankan dengan sepenuh hati hingga terbit fajar. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa saya melakukan perbuatan tersebut hanya untuk mengharap ridla-Mu, maka bukakanlah celah untuk kami hingga kami dapat melihat langit! ‘ Akhirnya Allah membuka celah lubang gua tersebut, hingga mereka dapat melihat langit.

Orang yang kedua dari mereka berdiri sambil berkata; ‘Ya Allah, dulu saya mempunyai seorang sepupu perempuan (anak perempuan paman) yang saya cintai sebagaimana cintanya kaum laki-laki yang menggebu-gebu terhadap wanita. Pada suatu ketika saya pernah mengajaknya untuk berbuat mesum, tetapi ia menolak hingga saya dapat memberinya uang seratus dinar. Setelah bersusah payah mengumpulkan uang seratus dinar, akhirnya saya pun mampu memberikan uang tersebut kepadanya. Ketika saya berada diantara kedua pahanya (telah siap untuk menggaulinya), tiba-tiba ia berkata; ‘Hai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah kamu membuka cincin (menggauliku) kecuali setelah menjadi hakmu.’ Lalu saya bangkit dan meninggalkannya. Ya Allah, sesungguhnya Engkau pun tahu bahwa saya melakukan hal itu hanya untuk mengharapkan ridhla-Mu. Oleh karena itu, bukakanlah suatu celah lubang untuk kami! ‘ Akhirnya Allah membukakan sedikit celah lubang lagi untuk mereka bertiga.

Seorang lagi berdiri dan berkata; ‘Ya Allah ya Tuhanku, dulu saya pernah menyuruh seseorang untuk mengerjakan sawah saya dengan cara bagi hasil. Ketika ia telah menyelesaikan pekerjaannya, ia pun berkata; ‘Berikanlah hak saya kepada saya! ‘ Namun saya tidak dapat memberikan kepadanya haknya tersebut hingga ia merasa sangat jengkel. Setelah itu, saya pun menanami sawah saya sendiri hingga hasilnya dapat saya kumpulkan untuk membeli beberapa ekor sapi dan menggaji beberapa penggembalanya. Selang berapa lama kemudian, orang yang haknya dahulu tidak saya berikan datang kepada saya dan berkata; ‘Takutlah kamu kepada Allah dan janganlah berbuat zhalim terhadap hak orang lain! ‘ Lalu saya berkata kepada orang tersebut; ‘Pergilah ke beberapa ekor sapi beserta para penggembalanya itu dan ambillah semuanya untukmu! ‘ Orang tersebut menjawab; ‘Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu mengolok-olok saya! ‘ Kemudian saya katakan lagi kepadanya; ‘Sungguh saya tidak bermaksud mengolok-olokmu. Oleh karena itu, ambillah semua sapi itu beserta para pengggembalanya untukmu! ‘ Akhirnya orang tersebut memahaminya dan membawa pergi semua sapi itu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahwa apa yang telah saya lakukan dahulu adalah hanya untuk mencari ridla-Mu. Oleh karena itu, bukalah bagian pintu goa yang belum terbuka! ‘ Akhirnya Allah pun membukakan sisanya untuk mereka.” (HR. Bukhari)

Sobat, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita berusaha meraih amalan-amalan prestatif. Meraih prestasi pastilah memerlukan perjuangan, pengorbanan, ketekunan dan keikhlasan. Mulailah dengan menebarkan salam, berpuasa sunnah, shalat sunnah, memberi makan kepada orang yang membutuhkan, berani mencegah kemungkaran dan shalat malam ketika orang lain tidur nyenyak dan amal shalih lainnya.

Marilah kita buktikan iman kepada Allah swt dengan memberikan prestasi dalam beramal shalih. Tidak hanya sekedar penggugur kewajiban atau setengah hati dalam menekuninya. Tunjuk dan nilai dirimu, jangan menilai orang lain. Semoga bermanfaat..

Islam Menjadi Asing Kembali

Sebelum kedatangan Islam, bangsa Arab terkenal sebagai bangsa padang pasir yang yang suka berperang, saling menyerang dan menjadikan tawanan dan budak belian pihak yang kalah perang. Membunuh anak perempuan merupakan hal yang biasa. Meminum minuman keras, berjudi, berdusta, dan berzina sudah menjadi kebiasaan.
Menyembah berhala menjadi ritual yang kental dalam keseharian. Tidak ada panas, tidak ada hujan, tidak ada halilintar yang menyambar, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh Muhammad SAW yang menyeru untuk meninggalkan kebiasaan buruk mereka.
Beliau menyeru manusia untuk bertauhid dan meninggalkan syirik termasuk  menyembah berhala. Beliau menyeru manusia untuk berpegang teguh pada agama Allah dan tidak bercerai berai. Beliau memuliakan wanita. Melarang membunuh nyawa kecuali dalam keadaan tertentu, termasuk melarang mencabut nyawa sendiri.
Beliau melarang umat Islam meminum minuman keras, berjudi, berdusta, dan berzina. Sudah pasti ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW mereka pandang dengan sebelah mata. Mereka merasa ajaran itu asing karena banyak hal yang mereka gemari justru dilarang.
Memang benar bahwa datangnya Islam itu pada mulanya asing, seperti apa yang pernah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:

اِنَّ اْلاِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَ سَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَ مَا اْلغُرَبَاءُ؟ قَالَ: اَلَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ. و فى رواية، فَقَالَ: اَلَّذِيْنَ يُحْيُوْنَ مَا اَمَاتَ النَّاسُ مِنْ سُنَّتِى. مسلم و ابن ماجه و الطبرانى

“Sesungguhnya Islam itu pada mulanya datang dengan asing (tidak umum), dan akan kembali dengan asing lagi seperti pada mulanya datang. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing“. Beliau ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang asing itu ?”. Beliau bersabda, “Mereka yang memperbaiki dikala rusaknya manusia”. Dan di lain riwayat beliau ditanya (tentang orang-orang yang asing), beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang menghidup-hidupkan apa-apa yang telah dimatikan manusia daripada sunnahku”. [HR. Muslim, Ibnu Majah dan Thabrani]
Bada-al Islaamu ghariiban wa saya’uudu kamaa bada-a ghariiban” (Datangnya Islam itu asing dan akan kembali asing seperti datangnya.) Sebagai akibatnya orang yang mengamalkan ajaran Islam akan terasing di tengah-tengah masyarakatnya sendiri. Mereka merasa terasing, terpinggirkan dan terkucilkan.
Akan tetapi Rasulullah SAW menggembirakan orang-orang yang terasing: “Fatuubaa lighuraba” (Berbahagialah orang-orang yang terasing.) Siapakah orang-orang yang terasing itu? Menurut sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim mereka itu adalah orang-orang yang berbuat kebaikan di tengah kerusakan manusia.
Dalam hadist lain disebutkan mereka itu adalah orang-orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah SAW di saat orang-orang lain mematikannya.
Dalam riwayat lain bagi imam Ibnu Wahab, beliau SAW bersabda :

طُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ الَّذِيْنَ يُمْسِكُوْنَ كِتَابَ اللهِ حِيْنَ يُتْرَكُ وَ يَعْمَلُوْنَ بِالسُّنَّةِ حِيْنَ تُطْفَى.

Kebahagiaan bagi orang-orang yang asing, yaitu mereka yang berpegang teguh dengan kitab Allah ketika ditinggalkan orang banyak dan mengerjakan dengan sunnah ketika sunnah itu dipadamkan orang banyak.
Saat ini di negeri ini sulit mencari orang yang jujur, padahal mayoritas penduduk beragama Islam dan Islam mengajarkan kejujuran. Dalam berbagai persidangan kita saksikan banyaknya saksi maupun tersangka yang mengubah-ubah kesaksian, seolah-olah mereka belum pernah disumpah.
Maka wajar kalau ada orang yang mengatakan bahwa hukum bisa dibeli.  Saat ini di negeri ini sulit mencari wakil rakyat yang amanah, meskipun mayoritas wakil rakyat beragama Islam dan Islam mengajarkan sikap amanah. Yang banyak adalah wakil rakyat yang sibuk memikirkan bagaimana caranya mempermainkan aturan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Mereka tidak lagi merasa bertanggung jawab terhadap Allah. Saat ini di negeri ini Islam telah kembali asing meskipun berada di tengah masyarakat yang mayoritas penduduknya  beragama Islam. Namun berbahagialah orang yang asing, karena menegakkan sunnah di masa seperti ini Allah menjanjikan pahala 50 kali pahala para sahabat Rasulullah SAW.

عَنْ اَبِى اُمَيَّةَ الشَّعْبَانِيّ، قَالَ: سَأَلْتُ اَبَا ثَعْلَبَةَ اْلخُشَنِيَّ فَقُلْتُ: يَا اَبَا ثَعْلَبَةَ، كَيْفَ تَقُوْلُ فِى هذِهِ اْلايَةِ عَلَيْكُمْ اَنْفُسَكُمْ. قَالَ: اَمَا وَ اللهِ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيْرًا سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُوْلَ اللهِ ص فَقَالَ: بَلْ اِئْتَمِرُوْا بِاْلمَعْرُوْفِ وَ تَنَاهَوْا عَنِ اْلمُنْكَرِ حَتَّى اِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَ هَوًى مُتَّبَعًا وَ دُنْيَا مُؤْثَرَةً فَاِعْجَابَ كُلّ ذِى رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ يَعْنِى بِنَفْسِكَ وَ دَعْ عَنْكَ اْلعَوَامَّ، فَاِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ اَيَّامَ الصَّبْرِ. الصَّبْرُ فِيْهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى اْلجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيْهِمْ مِثْلُ اَجْرِ خَمْسِيْنَ رَجُلاً يَعْمَلُوْنَ مِثْلَ عَمَلِهِ. وَ زَادَانِى غَيْرُهُ. يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْهُمْ؟ قَالَ: اَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْكُمْ. ابو داود

Dari Abu Umayyah Asy-Syabaniy, ia berkata : Saya pernah bertanya kepada Abu Tsalabah, aku bertanya, Hai Abu Tsalabah, bagaimana pendapatmu tentang ayat alaikum anfusakum ? - Al-Maaidah : 105. Ia berkata, Demi Allah, sungguh kamu menanyakan sesuatu yang aku pernah menanyakannya kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, Tetapi hendaklah kalian amar maruf dan nahi munkar, sehingga apabila kamu melihat kebakhilan dithaati, hawa nafsu diikuti, keduniaan telah mewarnai, dan orang bangga dengan pendapatnya, maka wajib atasmu (yakni menjaga dirimu), tinggalkanlah keumuman orang, karena akan datang di belakang kalian hari-hari keshabaran. Shabar pada waktu itu seperti orang yang menggenggam bara api. Bagi orang yang melakukan (amar maruf nahi munkar) di tengah-tengah mereka pada hari itu akan mendapat pahala lima puluh orang yang beramal seperti dia. Perawi berkata : Dan menambahkan kepadaku selain dia, ia berkata, Ya Rasulullah, apakah pahala lima puluh orang dari mereka ?. Beliau menjawab, Pahala lima puluh orang dari kalian. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 123]
Semoga Allah memilih kita menjadi bagian dari para penegak sunnah Rasulullah SAW, sehingga berhak mendapatkan janji-Nya, aamiin.

Minggu, 12 Desember 2010

Rakus Terhadap Harta & Jabatan

Kesenangan hidup di dunia ini apabila dibandingkan dengan kesenangan hidup di akhirat adalah sangat sedikit.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا قَلِيلٌ

Hai orang-orang yang beriman, Apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.[QS. At-Taubah : 38].
Kesenangan dunia hanyalah laksana permainan dan senda gurau - kesenangan palsu, kesenangan yang menipu

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. [QS. Al-Hadiid : 20]
Maka Allah SWT yang sangat kasih sayang kepada hamba-Nya (manusia) mengarahkan supaya mencari kesenangan dan kebahagiaan hidupnya di akhirat

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. [QS. Al-Qashash : 77]
Kesenangan hidup di akhirat bagi orang-orang yang beriman, lebih baik dan lebih kekal daripada semua kesenangan yang dirasakan di dunia

فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal [QS. Asy-Syuuraa : 36]
Walaupun demikian tidak sedikit manusia yang tertipu, karena daya tarik gemerlap dunia yang sangat memikat hati, sehingga melampaui batas kewajaran. Dengan thama’ dan rakusnya untuk memiliki harta sebanyak-banyaknya, dan menempati jabatan/kedudukan di dunia ini, dia mengira bahwa semua itu (harta dan jabatan) dapat mengekalkan kesenangan hidupnya

يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, [QS. Al-Humazah : 3].
Orang yang berpandangan seperti itu hanyalah orang-orang kafir dan akan menjadi penyesalan.
Kepada orang-orang yang beriman Allah memperingatkan,

لا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلادِ (١٩٦)مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri, itu hanyalah kesenangan yang sedikit (sementara), kemudian tempat tinggal mereka adalah di Jahannam, dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. [QS. Ali 'Imraan : 196-197]
Rasulullah SAW bersabda

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ اُرْسِلاَ فِى غَنَمٍ بِاَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ اْلمَرْءِ عَلَى اْلمَالِ وَ الشَّرَفِ لِدِيْنِهِ. الترمذى

Kerusakan agama seseorang yang disebabkan oleh sifat thamak dan rakus terhadap harta dan kedudukan lebih parah daripada kerusakan yang timbul dari dua serigala yang lapar yang dilepaskan dalam rombongan kambing. [HR. Tirmidzi]
Oleh karena itu dalam hal ini Rasulullah SAW bersumpah,

اِنَّا وَ اللهِ لاَ نُوَلِّى عَلَى هذَا اْلعَمَلِ اَحَدًا سَأَلَهُ وَ لاَ اَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ. البخارى و مسلم و اللفظ له

Demi Allah kami tidak akan mengangkat seseorang dalam suatu jabatan pada orang yang memintanya dan pada orang yang berambisi pada jabatan itu. [HR. Bukhari dan Muslim, dan lafadh ini bagi Muslim].
Jabatan adalah suatu amanat yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak, demikian juga harta kekayaan akan ditanya dari mana diperoleh dan untuk apa dipergunakan. Orang-orang yang rakus (thama’) terhadap harta maupun jabatan, perasaan bahwa harta dan jabatan itu adalah sesuatu amanat yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak sudah tidak ada lagi.
Maka untuk meraihnya dengan jalan apapun akan ditempuh asalkan dapat berhasil, sekalipun dengan cara merampok, mencuri, menipu, korupsi, suap-menyuap dan sebagainya, tanpa peduli halal maupun haram, karena jiwa agamanya sudah dirusak oleh sifat thama’ dan rakusnya.
Orang-orang semacam itu menjadi orang-orang yang paling rugi, karena mereka telah melakukan perbuatan yang sia-sia di dunia ini, bahkan berbuat yang mencelakakan dirinya, tetapi mereka mengira bahwa yang mereka lakukan adalah perbuatan yang sebaik-baiknya dan menguntukan dirinya

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالا (١٠٣)الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”.Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. [QS. Al-Kahfi : 103-104]
Semoga kita terjaga, tidak terjerumus ke dalam sifat thama’ dan rakus kepada harta maupun jabatan/kedudukan yang akan membawa kerusakan agama kita. Aamiin, ya Robbal ‘aalamiin.
Kesenangan hidup di dunia ini apabila dibandingkan dengan kesenangan hidup di akhirat adalah sangat sedikit.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا قَلِيلٌ

Hai orang-orang yang beriman, Apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.[QS. At-Taubah : 38].
Kesenangan dunia hanyalah laksana permainan dan senda gurau - kesenangan palsu, kesenangan yang menipu

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. [QS. Al-Hadiid : 20]
Maka Allah SWT yang sangat kasih sayang kepada hamba-Nya (manusia) mengarahkan supaya mencari kesenangan dan kebahagiaan hidupnya di akhirat

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. [QS. Al-Qashash : 77]
Kesenangan hidup di akhirat bagi orang-orang yang beriman, lebih baik dan lebih kekal daripada semua kesenangan yang dirasakan di dunia

فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal [QS. Asy-Syuuraa : 36]
Walaupun demikian tidak sedikit manusia yang tertipu, karena daya tarik gemerlap dunia yang sangat memikat hati, sehingga melampaui batas kewajaran. Dengan thama’ dan rakusnya untuk memiliki harta sebanyak-banyaknya, dan menempati jabatan/kedudukan di dunia ini, dia mengira bahwa semua itu (harta dan jabatan) dapat mengekalkan kesenangan hidupnya

يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, [QS. Al-Humazah : 3].
Orang yang berpandangan seperti itu hanyalah orang-orang kafir dan akan menjadi penyesalan.
Kepada orang-orang yang beriman Allah memperingatkan,

لا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلادِ (١٩٦)مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri, itu hanyalah kesenangan yang sedikit (sementara), kemudian tempat tinggal mereka adalah di Jahannam, dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. [QS. Ali 'Imraan : 196-197]
Rasulullah SAW bersabda

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ اُرْسِلاَ فِى غَنَمٍ بِاَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ اْلمَرْءِ عَلَى اْلمَالِ وَ الشَّرَفِ لِدِيْنِهِ. الترمذى

Kerusakan agama seseorang yang disebabkan oleh sifat thamak dan rakus terhadap harta dan kedudukan lebih parah daripada kerusakan yang timbul dari dua serigala yang lapar yang dilepaskan dalam rombongan kambing. [HR. Tirmidzi]
Oleh karena itu dalam hal ini Rasulullah SAW bersumpah,

اِنَّا وَ اللهِ لاَ نُوَلِّى عَلَى هذَا اْلعَمَلِ اَحَدًا سَأَلَهُ وَ لاَ اَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ. البخارى و مسلم و اللفظ له

Demi Allah kami tidak akan mengangkat seseorang dalam suatu jabatan pada orang yang memintanya dan pada orang yang berambisi pada jabatan itu. [HR. Bukhari dan Muslim, dan lafadh ini bagi Muslim].
Jabatan adalah suatu amanat yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak, demikian juga harta kekayaan akan ditanya dari mana diperoleh dan untuk apa dipergunakan. Orang-orang yang rakus (thama’) terhadap harta maupun jabatan, perasaan bahwa harta dan jabatan itu adalah sesuatu amanat yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak sudah tidak ada lagi.
Maka untuk meraihnya dengan jalan apapun akan ditempuh asalkan dapat berhasil, sekalipun dengan cara merampok, mencuri, menipu, korupsi, suap-menyuap dan sebagainya, tanpa peduli halal maupun haram, karena jiwa agamanya sudah dirusak oleh sifat thama’ dan rakusnya.
Orang-orang semacam itu menjadi orang-orang yang paling rugi, karena mereka telah melakukan perbuatan yang sia-sia di dunia ini, bahkan berbuat yang mencelakakan dirinya, tetapi mereka mengira bahwa yang mereka lakukan adalah perbuatan yang sebaik-baiknya dan menguntukan dirinya

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالا (١٠٣)الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”.Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. [QS. Al-Kahfi : 103-104]
Semoga kita terjaga, tidak terjerumus ke dalam sifat thama’ dan rakus kepada harta maupun jabatan/kedudukan yang akan membawa kerusakan agama kita. Aamiin, ya Robbal ‘aalamiin.

Menata Hati Di Era Bencana-Bencana Tiada Putus

Segala puji bagi Allah, betapa Allah Tuhan semesta Alam mendidik hamba-hamba-nya yang disayangi dengan nasehat dan didikan yang sangat-sangat lengkap. Perhatian dan curahan nikmat dan rahmat Allah senantiasa diberikan di sepanjang perjalanan hidupnya. Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya


Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. 57:22)
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. 57:23) )

Allah Tuhan Semesta Alam, Tuhan yang Maha Mengetahui, Tuhan yang Maha Bijaksana, Tuhan Yang Maha mengetahui dengan pasti tingkah polah umat manusia di dalam seluruh rentang perjalanan zaman.
Allah Maha Tahu bahwa sampai waktunya manusia akan sampai kepada zaman komputer,zaman digital, dimana manusia pada waktu itu akan berbuat sesuatu yang dapat mengakibatkan kerusakan yang luar biasa. Memang penemuan-penemuan ilmiah dapat diambil dan kemanfaatnya sangat luar biasa, namun bukankah disana sisi juga timbul kerusakan yang sangat luar biasa ?, betapa dengan teknologi komputer, didukung teknologi komputer kemajuan industrialisasi berkembang pesat luar biasa, namun efek samping kerusakan alam yang muncul juga luar biasa, bumi pun tidak mampu menahan kerusakan akibat tingkah polah manusia, hingga terjagi proses “Global Warming”, tetap saja manusia tidak mau surut dengan perilaku dan tabiatnya.
Bahkan dengan teknologi digital dan komputer, telah terjadi kemajuan yang luarbiasa di segenap bidang ilmu pengetahuan, termasuk dalam bidang kesehatan dan kedokteran. Namun kerusakan dibidang yang paling mendasar, yaitu bidang moral-pun juga terjadi dengan sangat luar biasa. Segala macam perbuatan jahat dan kotor telah dapat sirekam, ditonton dan ditularkan ke segenap penjuru dunia. Sehingga kejatuhan moral bangsa-bangsa telah terjadi dengan sangat pesatnya.
Betapa sejak teknologi komputer dan teknologi digital ini diterapkan, kejadian-kejadian musibah bencana dan berbagai macam kerusakan jiwa yang berskala sangat-sangat besar telah terjadi mengglobal? Ingat firman Allah yang artinya
.
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar. (QS. 30:41) )
Sesuatu yang sebenarnya sangat menguntungkan, namun jiga disalah gunakan akan menjadi sesuatu yang bisa sangat merugikan. Global warming, yang diwarnai dengan perubahan cuaca ekstrim telah mengakibatkan berbagai kejadian-kejadian sangat luar biasa, misalnya munculnya badai-badai jenis baru yang berdampak dapat memporak-prandakan hunian manusia. Badai mengakibatkan banjir dan tanah longsor, kebakaran hutan , perubahan iklim, dst.
.
Kesalahan yang perlu ditobati.
Manusia lah yang memicu terjadinya segala kerugian dan bencana yang menimpa diri mereka. Bahkan Ketika manusia telah melampaui batas, dan tidak ada lagi yang mampu mengekangnya, Maka Allah akan memperingatkan manusia agar kembali kepada jalan yang benar. Bagaimanakah sikap hati jiwa dan perilaku yang terbaik menghadapai berbagai bencana dan musibah yang hadir tiada henti-hentinya yang ada di sekitar kita, ingatlah beberapa firman Allah yang artinya
.
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. 6:42)
Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada suatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dan merendahkan diri. (QS. 7:94)
Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (QS. 16:112) )
Kerusakan akibat penyalah gunaan teknologi komputer dan teknologi digital, telah ada didepan mata. Betapa Kerusakan itu sudah sangat jauh menerobos kedalam sendi-sendi jiwa umat manusia. Kerusakan pada jiwa generasi muda telah merasuk dalam keadaan yang sangat-sangat menghancurkan jiwa umat manusia. Bahkan umat beragama pun bisa memasuki dalam kubangan siksa dan murka Allah akibat terpengaruh oleh berbagai tingkah laku jahat yang disebarkan dengan teknologi digital. Sehingga menjadi makhluq-makhluq terkutuk sebagaimana firman-Nya yang artinya
.
Katakanlah:”Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik ) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, diantara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi (dan orang yang) menyembah Taghut”. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (QS. 5:60) )
Bila kerusakan jiwa dan moral manusia telah terjadi maka umat beragama dapat tertular dan berubah menjadi manusia yang berjiwa sebagaimana ayat diatas. Dengan kerusakan seperti itu dapat mendatangkan kemurkaan Allah.
Penjelasan tentang manusia telah berubah menjadi kera, babi dan penyembah thagut adalah perubahan pada sifat dan jiwanya bukan pada jasmaninya. Manusia-manusia yang dahulunya rajin beribadah kepada Allah, sopan santun, lembut hati, pemalu, ramah tamah, pekerja keras, penuh toleransi, telah berubah menjadi manusia yang dipenuhi dengan sifat-sifat yang tidak mau beribadah kepada Allah, rakus dunia, tidak punya malu, berperangai buruk dan jahat, yang dapat merugikan satu sama lain dan dapat mencelakakan dan membinasakan dirinya dan membinasakan satu sama lain.
.
Kearifan yang harus tetap dijaga dan disemaikan.
Manusia Indonesia, manusia religius, manusia yang sangat mengenal Allah Tuhan Semesta Alam, Tuhan Yang Maha Esa. Perlu kembali kepada jati diri nya yang unggul dan mulia di tengah-tengah pergaulan dunia. Manusia yang dapat menatap makna kehidupan secara mendalam dan tetap terpatri dalam hati sanubari.
Fungsi hidup tiada lain adalah untuk melihat tanda-tanda keagungan Allah Tuhan Semesta Alam, Tuhan Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, Tuhan Yang Maha Agung, dan kemudian rajin beribadah kepada-Nya dan terus menerus rajin untuk bertasbih mengagungkan-Nya. Dan itu adalah nikmat yang ternikmat dan nikmat hidup yang penuh makna.
Bila manusia keluar dari jalan tersebut maka manusia akan menjadi perusak-perusak diri dan perusak apa saja yang ada di sekitarnya. Kerusakan hati jiwa telah mempengaruhi segala sepak terjang dan perilakunya. Racun-racun jiwa, berupa konsumsi dan penyebaran berbagai bentuk-bentuk perilaku jahat dan kenistaan yang disebarkan dengan teknologi digital, telah merubah dan mengacau sifat baik dan mulia manusia. Ingat firman Allah yang artinya
.
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah apa-apa yang ada pada diri (jiwa) mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. 13:11) )
Perubahan tingkah laku manusia dalam menata diri, menata kehidupan hidup dan menata alam sangat dipengaruhi oleh suasana jiwa dan hatinya. Berbagai perubahan mendasar tingkah laku manusia dapat terwujud dalam kehidupan bila manusia telah merubah nafs (jiwanya). Jiwa yang memahami arti hidup yang sesungguhnya, hidup yang digunakan untuk melihat tanda-tanda keagungan Allah dan rajin beribadah kepada-Nya, hidup yang dipertanggung jawabkan hingga di akherat kelak, adalah sebuah kearifan yang sangat-sangat-sangat mahal harganya.
Seharusnya bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa-bangsa pendidik bagi bangsa-bangsa lain untuk mengenal Allah dan beribadah kepada Allah, bukan bangsa yang mengekor untuk merusak diri sendiri,merusak jiwa dan kemudian alam, yang dapat mendatangkan kesusaha yang berkepanjangan bahkan dapat mendatangkan kemurkaan Allah. Ingat lagi firman Allah Yang artinya
.
Makanlah di antara rezki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia. (QS. 20:81)
Orang-orang tua kita telah mengingatkan dengan kata-kata yang sangat sederhana, namun bersifat abadi, bahwa mereka mengatakan bahwa hidup ini ada yang menghidupi, ada yang memelihara, sehingga mereka tidak pernah khawatir dalam menjalani hidup, namun mereka amat khawatir dan amat menjauhi perbuatan dosa, jahat dan nista, karena hal tersebut dapat membawa kepada kesusahan atau mendatangkan siksa yang menyusahkan kehidupan manusia.
Satu pesan yang maha penting bagi para pengajar dan para pendidik, bahwa jangan segera puas dengan pengajaran yang diberikan kepada anak-anak cerdas bangsa. Bila anak-anak didik cerdas itu tidak memiliki sifat mulia dan kearifan, maka para pengajar dan pendidik telah gagal mengajar dan mendidik, karena anak-anak yang dididik tersebut hanya akan menjadi perusak-perusak yang cerdas maka kerusakan yang diakibatkan juga luar biasa. Maka dosa pun ikut terpikul oleh para pengajar dan pendidik, bencana…. bencana…. bencana….. , seharusnya Agama, kearifan, kesucian jiwa, keimanan, kesholihan, menjadi panglima dalam hidup, utuk selamat dan bahagia di dunia dan akherat….Wallahu a’lam