Sabtu, 18 Juni 2011

Metode Praktis Melembutkan Hati dengan Puasa

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikut beliau, amien. Alhamdulillah Allah SWT telah memberi kepada kita umat Islam sebuah petunjuk yang sangat sempurna yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah yang didalamnya bertabur dengan mutiara-mutiara keajaiban, yang berkilau-kila dan menakjubkan. Yang dapat diambil oleh siapapun yang menginginkannya.
Kasus kekerasan di jaman ini telah bergerak merangkak sedikit demi sedikit dan terus menggerus budaya luhur bangsa timur yaitu budaya kelembutan hati yang merupakan budaya indah yang terserak di dunia timur. Sisa-sisa budaya yang demikian menyejukkan masih nampak ada didalam sikap dan perilaku serta tersimpan dalam hati generasi yang merasakan indahnya hidup berhati santun, namun generasi penerus nampak begitu susah mewarisi keindahan sikap yang begitu mulia dan indah
Allah SWT telah menggambarkan berbagai macam penyebab, baik yang nampak maupun tersembunyi yang mengaibatkan manusia berhati kaku, kasar dan bahkan berhati batu, sebagaimana firman-firman Allah yang artinya :

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina (QS. 68:10)
yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, (QS. 68:11)
yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, (QS. 68:12)
yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, (QS. 68:13)
karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. (QS. 68:14)
Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata:”(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala”. (QS. 68:15)


Diantara penyebab manusia menjadi manusia yang kaku dan kasar serta kejam dapat segera diketahui, yaitu manusia telah melazimi perbuatan dosa dan kejahatan, dan merasa puas dan bangga diri dengan segala apa yang dimiliki, baik berupa harta dan kekuatan. Untuk dibangga-banggakan dalam kehidupan di dunia tanpa mau mengenal kehidupan akherat. Dalam ayat yang lain Allah berfirman yang artinya

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimaksud oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (QS. 22:52)
agar Dia menjadikan apa yang dimaksudkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, (QS. 22:53)
dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya al-Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (QS. 22:54)


Allah menjelaskan bahwa hati-hati manusia yang masih menyenangi perbuatan dosa dan kejahatan sebagai hati yang kasar, hati yang penuh dengan gejolak permusuhan.
Orang-orang yang masih suka tenggelam dalam kelezatan perbuatan dosa dan kejahatan, maka akan berakibat didalam hatinya dipenuhi dengan bisikan-bisikan jahat, bisikan bisikan kotor dan bisikan-bisikan yang mengajak kepada permusuhan. Perbuatan dosa menjadikan syaitan dapat masuk dan menguasai hati manusia. Dan kemudian membisikkan kepada manusia tentang kegundahan, kekecewaan, ketidakpuasan, kejengkelan, dan bahkan menuju kepada permusuhan dan pertikaian.
Dalam firman-Nya yang lain Allah SWT berfirman yang artinya


(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhya Allah menyukai orang-orang berbuat baik. (QS. 5:13)
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (untuk) menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya) Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah.Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (QS. 39:22)


Kelembutan, ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan hati adalah sesuatu nikmat Allah yang sangat tinggi dan mulia, namun nikmat-nikmat tersebut bisa tercabut dan rusak serta berubah menjadi siksa, baik siksa hati atau siksa phisik. Penyebab tercabutkan nikmat-nikmat hati adalah disebabkan oleh perbuatan durhaka dan perbuatan-perbuatan dosa yang terus menerus dilakukan.
Jaman kini, zaman informasi global, banyak sekali perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT telah disebar dengan bebas tanpa batas, sispapun yang tidak memahami kebenaran, pasti menyenangi dengan perbuatan-perbuatan dosa tersebut, karena memang perbuatan tersebut terpulas sebagai perbuatan yang menyenangkan dan enak untuk dinikmati, baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.
Namun ketetapan Allah pasti berlaku, barang siapa berbuat dosa, baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan maka daki-daki dosa akan memenuhi hatinya, dan akan merubah hatinya yang lembut dan penyayang, ramah tamah berubah menjadi hati yang kaku, kasar dan penuh dengan kegelapan hati.


Puasa Jiwa dan Raga Menuju Kebahagiaan Yang Lebih Kekal

Umat Islam telah bertahun-tahun diajari oleh Allah SWT tentang puasa, apakah itu syari’at puasa wajib, misalnya puasa romadhon, atau puasa sunnah, seperti puasa senen kamis, puasa 3 hari di tiap tengah bulan qomariah, atau bahkan puasa Nabi Dawud.
Dalam mengajaran tentang puasa romadhon Rasulullah Muhammad SAW  telah menyampaikan, banyak orang yang berpuasa namun tidak diperoleh taqwa, yang diperoleh hanya lapar dan haus. Untuk mendapat taqwa manusia perlu mempuasakan seluruh indranya, aqalnya dan hatinya dari segala kesengan-kesenangan yang dibujukkan syaitan. Dan kemudian diisi dengan tekun belajar dan menghayati Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk diamalkan.
Zaman modern, zaman serba mewah, zaman tercukupi segala keinginan pemuasan hawa nafsu, zaman bebas untuk meraih segala apa saja yang disenangi hawa nafsu, dan semua tersedia. Sangat berbeda jauh dengan zaman Rasulullah SAW ketika sedang diutus ke bangsa arab yang masih dalam kondisi lemah dan miskin. Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya

bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang yang berebut melahap isi mangkok (makanan). Para sahabat bertanya, “Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali tetapi seperti buih air bah (tidak berguna) dan kalian ditimpa penyakit wahan. ” Mereka bertanya lagi, “Apa itu penyakit wahan, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kecintaan yang sangat kepada dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)
Demi Allah, bukanlah kemelaratan yang aku takuti bila menimpa kalian, tetapi yang kutakuti adalah bila dilapangkannya dunia bagimu sebagaimana pernah dilapangkan (dimudahkan) bagi orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian saling berlomba sebagaimana mereka berlomba, lalu kalian dibinasakan olehnya sebagaimana mereka dibinasakan. (HR. Ahmad) )


Marilah kita melihat keutamaan Nabi Dawud As, Beliau adalah Nabi dan sekaligus Raja, tentu segala fasilitas dan kekuatan yang dimiliki dapat membuat beliau berbuat apa saja. Namun Nabi dawud adalah nabi yang terkenal dengan sehari puasa dan sehari berbuka, dan nabi yang dikenal dengan suara yang Indah, yang selalu melantunkan kitab suci Zabur.
Kelezatan firman-firman Allah yang dalam kitab Zabur yang selalu dilantunkan oleh nabi Dawud, selalu dapat memenuhi hati Nabi Dawud. Puasa dalam arti sesungguhnya, mempuasakan aqal, hati dan seluruh indra dari hal-hal yang membawa kepada kecintaan kepada dunia yang berlebihan perlu dijalankan oleh setiap pencari kebahagiaan hakiki. Sebagaimana firman Allah yang Artinya

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. 38:26)

Zaman Globalisasi, zaman pemanjaan seluruh kesenangan indra, aqal dan hati. Namun tetap saja bila seluruh kemanjaan itu dipuaskan dan dibebaskan manusia akan jatuh berkubang dosa, kesesatan, kesedihan dan kekacauan


Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 12:53)


Sekali lagi, kelembutan jiwa dan hati yang dapat terungkap dalam kata-kata, perbuatan, sikap dan perilaku atau sering dikatakan sebagai KARAKTER   MULIA, bukanlah sekedar hasil dari puasa jasmani saja, namun dia adalah hasil konkrit dari puasa jiwa dan raga, puasa lahir dan batin, puasa dari hal-hal yang disenangi nafsu, dan kemudian waktu-waktu hidup ini diisi dengan aktifitas-aktifitas yang diridhoi Allah SWT.
Berapakah waktu kita yang kita habiskan memanjakan diri dengan menatap tajam hiburan-hiburan MULTIMEDIA yang merusak iman di hati, berapakah waktu kita yang kita habiskan untuk mendengar dengan girang gemirang musik-musik dari MULTIMEDIA yang merusak iman di hati.
Berapa waktu kita yang kita habiskan untuk bersenang-senang, berpesta pora dan terus-menerus merencanakan untuk terus menerus berpesta pora ?????, berhati-hatilah kita masih hidup di dunia, kita belum hidup di Surga Allah di akherat !!!!, Bila kita tidak berhati-hati maka bisa saja akhir hayat kita tenggelam dalam kesenangan yang dimurkai Allah dan mati masuk kedalam naar (neraka) yang dipenuhi dengan kesusahan dan kesusahan yang panjang.

Mari kita biasakan mempuasakan jiwa dan raga kita untuk menggapai kebagiaan, keselamatan, kedamaian, kemuliaan di dunia dan di akherat, sebagai yang dijanjikan Allah dalan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Diantara tanda-tandanya ialah bahwa mereka itu adalah orang-orang yang lembut hati, ramah tamah, pemaaf, penghiba, bertaqwa dan senantiasa menyejukkan suasana dimanapun mereka berada. …Wallahu a’lam

Al-Qur'an Berbicara Tentang Facebook

Facebook adalah jejaring sosial paling top saat ini. Berdasar data alexa dot com, situs ini menempati urutan 2 skala global dan urutan satu di Indonesia. Itu artinya sangat banyak pengguna FB. Sesuai data dari Facebook Press Room, total member aktif  FB berjumlah lebih dari 500 juta orang. Dan mereka menghabiskan 700 miliar menit untuk FB-an.
Dengan begitu banyaknya member, tidak heran jika FB menjadi media propaganda favorit selain tv, radio, dan media online lain. Banyak hal bisa disampaikan lewat FB. Promosi dagangan, berbagi pengetahuan, membuat ajakan massal seperti di Mesir dan beberapa negara afrika yang belakangan sangat panas kondisi politiknya, hingga menjadi teman curhat.
Tujuan utama dibuatnya FB adalah untuk membuat jaringan global sehingga masing2 bisa berbagi. Dan yang ternyata tidak ketinggalan, banyak juga orang curhat (bisa dibilang ngeluh gak ya?) lewat FB.
Belum lama ini penulis menemui beberapa status friend FB sbb:
“Wah hujan ni…padahal udah dandan dan mau ke ondangan. Gagal maning son”
“Udah ngidam renang, gak jadi deh. Temans pada ngapain sih?”
“Di ikeda hawanya dingin banget sih, sampe kering kulit ni”
“Pembantu rese ni, kerja ga pernah bener”
Dan masih banyak lagi.
Trus, apa hubungannya dengan judul di atas? Disadari atau tidak, keberadaan FB harus disikapi dengan bijak apalagi sebagai seorang muslim. Lho kok? FB ibarat pisau yang bisa mendatangkan manfaat atau madharat. Tentang ini, bisa dilihat Pengaruh HP dan FB bagi perkembangan remaja.
Menyoal banyaknya orang curhat/ngeluh lewat FB, Al-Qur’an bahkan sudah membahasnya sejak 14 abad yang lalu. Jauh sejak sebelum Mark Zueckenberg dilahirkan.
Silakan dibuka QS. Al-Ma’arij (70) :19-21.
Sungguh manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan/harta, dia menjadi kikir.
Dengan ayat itu, coba kita lihat kembali ke belakang. Mana yang lebih banyak dari status FB kita, apakah bernada mengeluh atau bernada berbagi nikmat. Tentang berbagi nikmat, ada lagi ayat yang memerintahkan berbagi kenikmatan.
Dan terhadap nikmat rabb-mu, hendaklah engkau nyatakan dengan bersyukur,  di dalam QS. Adh- Dhuha (93) :11
Setelah membaca dan merenungi kedua ayat tadi, apa seharusnya langkah kita? Banyak hal positif bisa dibagikan lewat FB. Bahkan untuk mendatangkan fulus sekalipun. Dan tentunya sebagai seorang muslim yang cerdas, dia akan menggunakan teknologi untuk menebalkan iman dan berjuang di jalan yang diridhoi Allah SWT.
Bukan untuk berbuat sia-sia atau bahkan kemaksiyatan. Allah Maha Melihat dan Mendengar.

Senin, 03 Januari 2011

Valentine Days versus Kasih Sayang Dalam Islam

VALENTINE'S DAYS atau hari kasih sayang adalah sebuah tradisi bagi kaum muda mudi yang biasa diperingati setiap tanggal 14 Februari di berbagai negara yang secara realitanya bukan hanya remaja dan ABG (Anak Baru Gede) saja, tapi mereka yang sudah berkeluarga pun ikut memeriahkannya dengan berbagai cara serta keunikan tersendiri dalam mengungkapkan sebuah arti kasih sayang.
Dengan berlabelkan Cinta, Valentine's Days (baca VD) kian membudaya di Indonesia entah sejak kapan asal muasal VD datang dan dimeriahkan di negeri ini, yang jelas VD adalah sebuah prodak Eropa beberapa abad lalu yang kemudian diikuti oleh sebagian rakyat Indonesia.
Banyak versi yang menerangkan asal muasal VD. Versi Pertama, VD adalah sebuah tanggal untuk mengenang tokoh Kristen bernama Santa Valentine yang tewas sebagai martir, ia hukum mati dengan cara dipukuli dan dipenggal kepalanya pada tanggal 14 Februari 270 M oleh Kaisar Romawi yaitu Raja Cladius II (268-270). Versi Kedua, VD adalah sebuah tanggal untuk untuk menghormati Dewi Juno yang dikenal dengan Dewi perempuan dan perkawinan, adalah suatu kepercaayaan bangsa Romawi Kuno bahwa Dewi Juno adalah Ratu dari Dewa dan Dewi bangsa Romawi. Kemudian diikuti oleh hari sesudahnya yaitu tanggal 15 Februari sebagai Perayaan Lupercalia yakni sebuah upacara pensucian serta memohon perlindungan kepada Dewa Lupercalia dari gangguan Srigala dan ganguan-ganguan lainnya. Versi Ketiga, Ken Sweiger dalam artikel "Should Biblical Christian Observe It?" mengatakan bahwa kata "Valentine" adalah berasal dari kata Latin yang memiliki arti : "Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa" yang ditujukan kepada Tuhan orang Romawi yaitu Nimrod dan Lupercus. Nah sekarang coba anda fikirkan apabila anda mengatakan "to be my Valentine" ini berarti anda memintanya menjadi "Sang Maha Kuasa" sesuatu yang sangat berlebihan sekali.
Apabila kita perhatikan beberapa versi di diatas, sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan hari kasih sayang, namun hanya sebagai penghormatan belaka. Apalagi di zaman sekarang dengan datangnya VD banyak orang yang memanfaatkannya dengan membuat produk-produk yang bernuansa Valentine, sebagai tanda kasih sayang yang dipersembahkan kepada sang kekasih, teman dan sebagainya, yang mengekor budaya barat dan tidak tahu asal muasalnya. Umumnya mereka saling mengucapkan "Selamat Hari Valentine", mengirim bunga dan kartu Valentine's Days, ada juga yang saling mencurahkan isi hati, bahkan menyatakan cinta dan kasih sayangnya yang mereka anggap "Inilah Hari Kasih Sayang". Rasulullah saw bersabda : "Barang siapa yang meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut." (H.R. Tirmidzi)

Kasih Sayang dalam Islam

Firman Allah swt.: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menjadikan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Sesungguhnya orang mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paing bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal." (Q.S. al-Hujurat:13).
Sebenarnya dalam Islam tidak mengenal Hari Kasih Sayang, kasih sayang dalam Islam terhadap sesama tidaklah terbatas dengan waktu dan dimanapun berada, baik untuk keluarga, kerabat, dan sahabat yang semuanya masih dalam koridor-koridor agama Islam itu sendiri. Nabi Saw., bersabda : "Cintailah manusia seperti kamu mencintai dirimu sendiri." (H.R. Bukhari). Islam sangat melarang keras untuk saling membenci dan bermusuhan, namun sangat menjunjung tinggi akan arti kasih sayang terhadap umat manusia. Rasulullah saw. bersabda : "Janganlah kamu saling membenci, berdengki-dengkian, saling berpalingan, dan jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Juga tidak dibolehkan seorang muslim meninggalkan (tidak bertegur sapa) terhadap sudaranya lewat tiga hari" HR. Muslim.
Disini jelas bahwa kita dianjurkan sekali untuk saling menjaga dan menghargai antar sesama sebagai tanda kasih sayang yang mesti dihormati. Hal ini untuk menghindari berbagai keburukan serta dapat mengenal antar sesama untuk memperkuat dan menjaga tali persaudaraan. Dalam hadits Nabi saw.: "Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal kecintaan, kasih-sayang dan belas kasihan sesama mereka, laksana satu tubuh. Apabila sakit satu anggota dari tubuh tersebut maka akan menjalarlah kesakitan itu pada semua anggota tubuh itu dengan menimbulkan insomnia (tidak bisa tidur) dan demam (panas dingin). HR. Muslim. Bahkan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Baihaqi melalui Anas ra. Nabi bersabda : "Tidak akan masuk surga kecuali orang yang penyayang", jadi jelas bahwa yang masuk surga itu hanyalah orang-orang yang mempunyai rasa kasih sayang yang tanpa dibarengi dengan niat-niat jelek.
Dengan datangnya Valentine's Day dikhawatirkan bagi kaum muda-mudi yang tidak mengerti akan mampu terjerumus dalam hal-hal negatif dengan mentafsirkan kasih sayang di hari yang special ini. Firman Allah swt.: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (Q.S. al-Israa':32), yakni perbuatan yang dilarang oleh agama baik secara terang-terangan maupun yang tersembunyi. Oleh karena itu kita mesti sadar apa arti yang sesungguhnya sebuah kasih sayang.
Selain itu pula dijelaskan dalam perkara mencintai seseorang tidaklah boleh untuk berlebihan yang akan mengakibatkan penyesalan dan sia-sia belaka, sebagai etika untuk seorang muslim Rasulullah saw. bersabda : "Cintailah kekasihmu (secara) sedang-sedang saja, siapa tahu disuatu hari dia akan menjadi musuhmu; dan bencilah orang yang engkau benci (secara) biasa-biasa saja, siapa tahu di suatu hari dia akan menjadi kecintaanmu." (H.R. Turmidzi) dan masih banyak lagi diantara hadits Nabi saw. yang menerangkan tentang kasih sayang yang membawa kebaikan bagi umat manusia. Dengan demikian marilah kita mencontoh budi pekerti Nabi besar Muhammad saw., yang berdasarkan al-Qur'an dan Hadits sebagai jalan untuk kebaikan untuk di dunia dan hari kemudian.

Valentine’s Day- Apa pandangan Islam?

VALENTINE’S Day atau ‘Hari Kekasih’ sebagaimana yang difahami ialah hari di mana dua orang yang berkasih sayang atau sepasang kekasih yang bercinta meraikan percintaan dan kasih sayang. Budaya ini disambut setiap tahun pada 14 Februari.
Tidak dinafikan manusia suka dikasihi dan mengasihi di antara satu sama lain. Golongan remaja adalah golongan yang sering kali dikaitkan dengan soal percintaan. Cuma lumrahnya mereka mudah terikut-ikut serta taksub dengan pengaruh yang dibawa oleh orang-orang barat.
Ruangan Irsyad hukum kali ini akan membicarakan sama ada Valentine’s Day munasabah disambut sebagai hari kekasih atau tidak.
Mengikut beberapa sumber, Valentine adalah nama bagi seorang paderi Kristian yang giat menyebarkan agama tersebut di Rom ketika pemerintahan Raja Rom yang bernama Claudius II. Pada masa pemerintahannya, Claudius II telah memenjarakan orang-orang Kristian kerana mengamalkan agama yang bertentangan dengan agamanya. Oleh kerana Valentine seorang penyebar agama Kristian, beliau juga telah ditangkap dan diseksa di dalam penjara.
Walaupun berada dalam penjara, Valentine tetap berusaha mengajar dan menyebarkan agama tersebut di kalangan banduan-banduan penjara di samping membantu tawanan-tawanan penjara melepaskan diri dari penjara. Kegiatan ini telah diketahui oleh Raja Rom dan beliau diseksa dan akhirnya dihukum bunuh pada 14 Februari.
Orang-orang Kristian menganggap bahawa Valentine merupakan seorang yang mulia kerana sanggup berkorban dan mati demi kasih sayangnya terhadap agama Kristian dan penganut-penganutnya. Beliau disamakan dengan Jesus yang kononnya mati kerana menebus dosa yang dilakukan oleh kaumnya.
Valentine bagi penganut agama Kristian adalah lambang kasih sayang sejati di antara seorang hamba dengan tuhannya dan dengan sesama manusia. Dikatakan juga bahawa ketika di dalam penjara, beliau telah jatuh cinta dengan anak salah seorang pegawai penjara dan di akhir hayatnya sebelum dibunuh, beliau sempat menulis sepucuk surat cinta kepada gadis tersebut yang bertandatangan ‘From your Valentine’ (Daripada Valentinemu).
Maka orang-orang Kristian mengambil sempena 14 Februari itu untuk meraikan hari kasih sayang demi memperingati hari kematian paderi mereka Valentine.
Berdasarkan penerangan di atas, adalah jelas bahawa tidak ada istilah Hari Kekasih atau Valentine’s Day dalam Islam. Hakikatnya, adalah tidak boleh orang-orang Islam menyertainya kerana hari tersebut adalah hari perayaan bagi orang-orang Kristian.
Memang Islam sangat menggalakkan umatnya supaya berkasih sayang di antara satu sama lain akan tetapi untuk meluahkan kasih sayang di antara seorang lelaki dan perempuan perlu melalui saluran yang dibenarkan oleh syarak bukan yang menggalakkan kepada perkara-perkara yang mendorong atau merangsang kepada yang dilarang dan maksiat.
Realitinya, Islam adalah agama yang praktikal, bukan mengongkong. Islam agama yang mengatur kehidupan dengan lebih sempurna. Islam tidak pernah menyekat hubungan kasih sayang di antara umatnya.
Dalam Islam ada tiga kategori kasih:
  • Pertama, kasih Pencipta (Allah Subhanahu wataala) kepada hamba-Nya;
  • Kedua, kasih hamba kepada Pencipta dan
  • Ketiga, kasih makhluk sesama makhluk.
Banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam menyatakan mengenai hikmat dan besarnya faedah berkasih sayang.
Allah Subhanahu wataala menjelaskan tentang keagungan nikmat-Nya kepada ma-khluk-Nya melalui nikmat kasih sayang; yang tafsirnya:
“Dan (Dialah) yang menyatupadukan di antara hati mereka (yang beriman itu). Kalaulah engkau belanjakan segala (harta benda) yang ada di muka bumi, nescaya engkau tidak dapat juga menyatupadukan di antara hati mereka, akan tetapi Allah telah menyatupadukan di antara (hati) mereka.” (Surah Al-Anfaal: 63).
Dan tafsirnya lagi:
“Lalu Allah menyatukan di antara hati (sehingga kamu bersatu padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara.” (Surah Ali Imran: 103).
Dengan penjelasan ayat di atas bahawa Allah Subhanahu wataala sangat mencela dan mengingatkan dengan keras tentang perpecahan sesama makhluk. Allah Subhanahu Wataala juga memerintahkan umat Islam supaya sentiasa berpegang teguh dengan agama Allah dan dilarang berpecah belah dan bermusuhan.
Kasih sesama makhluk pada sifatnya adalah tidak kekal, ia bergantung kepada keadaan, tetapi kasih hamba kepada pencipta-nya dengan iman dan takwa, manakala kasih Pencipta kepada hamba berkekalan. Hal in jelas sebagaimana firman Allah subhanahu wataala yang tafsirnya
“Katakanlah (Wahai Muhammad): “jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah aku, nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu. Dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengetahui.” (Surah Ali Imran: 31).
Oleh itu sebaik-baiknya hendaklah setiap orang Islam khasnya golongan remaja tidak terikut-ikut dengan budaya ‘Hari Kekasih’ yang dicipta oleh orang-orang Kristian, sebaliknya hendaklah menumpukan masa dan waktu kepada Allah Subhanahu Wataala dengan melakukan apa jua pekara yang mendatangkan manfaat yang matlamat akhirnya menghidupkan cinta kepada Allah Subhanahu Wataala.
‘HARI Kekasih’ yang dibawa oleh orang-orang Barat tanpa disedari bertujuan untuk melekakan dan merosak akhlak masyarakat Islam, kerana senario menyambut ‘Hari Kekasih’ berlaku di kalangan remaja Islam. Sungguhpun ia belum sampai ke tahap yang kronik, namun begitu apa yang lebih membimbangkan bukanlah setakat berutus-utus kad ucapan dan hadiah, atau meraikannya di kelab-kelab disko, tetapi kemungkinan adanya segelintir remaja yang sanggup menghadiahkan kehormatan diri demi membuktikan kesetiaan.
Bagi menjelaskan masalah sebilangan remaja yang begitu mudah terpengaruh dengan budaya asing, Al-Quran memberi pengajaran dan ingatan kepada umat Islam, bahawa orang Yahudi dan Kristian akan terus berusaha sedaya upaya untuk memperdaya umat Islam supaya mengikut kehendak mereka. Allah Subhanahu Wataala berfirman yang tafsirnya:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak sekali-kali akan bersetuju atau suka kepadamu (wahai Muhammad) sehingga engkau menurut agama mereka (yang telah terpesong itu). Katakanlah (kepada mereka): “Sesungguhnya petunjuk Allah (agama Islam) itulah petunjuk yang benar.” Dan demi sesungguhnya jika engkau menurut kehendak hawa nafsu mereka sesudah datangnya (wahyu yang memberi) pengetahuan kepadamu (tentang kebenaran), maka tiadalah engkau akan peroleh daripada Allah (sesuatu pun) yang dapat mengawal dan memberi pertolongan kepadamu. Orang-orang yang kami berikan kitab kepada mereka, sedang mereka membacanya dengan sebenar-benar bacaan (tidak mengubah dan memutar-belit maksudnya), mereka itulah orang-orang yang beriman kepadanya; dan sesiapa yang mengingkarinya maka mereka itulah orang-orang yang rugi.’’ (Surah Al-Baqarah: 120-121)
Ayat ini memberi pengajaran kepada umat Islam bahawa orang-orang Yahudi dan Nasrani itu akan terus berusaha sedaya upaya untuk memperdaya orang-orang Islam supaya mengikut telunjuk dan kehendak mereka.
Berbagai-bagai cara dan jalan yang mereka lakukan untuk merosakkan kepercayaan dan keperibadian orang-orang Islam, dan kerana ramai yang tidak menyedari hakikat ini maka bukan sedikit dari kalangan umat Islam yang terikut-ikut dengan adat dan budaya serta cara hidup mereka, semata-mata dengan alasan menurut peredaran zaman, sekalipun yang diikuti itu bersalahan dengan ajaran Islam dan bertentangan dengan akhlak dan budi pekerti yang mulia. Hakikat ini wajib diketahui dan disedari; mana-mana yang terlanjur, wajib kembali ke jalan yang benar.
Oleh itu, sebagai orang Islam kita hendaklah membuat sesuatu perkara itu dengan mengikut landasan Islam yang sebenar. Mengamalkan adat dan budaya Melayu yang sopan lagi tertib tidaklah salah asalkan tidak bertentangan dengan prinsip dan ajaran Islam.
Islam sangat menitikberatkan soal remaja di antaranya bagaimana mengarah hala tuju tentang percintaan. Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam ada menyebutkan bahawa tujuh golongan manusia yang akan mendapat perlindungan atau lembayung Allah antaranya: Pemuda atau remaja yang sentiasa beribadat kepada Allah tidak kira pagi, petang, siang atau malam; seorang laki-laki apabila diajak oleh perempuan yang cantik jelita dan kaya raya untuk melakukan maksiat, dia menolak kerana takutkan Allah, sebagaimana Baginda bersabda yang maksudnya:
“Tujuh orang yang dilindungi oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya iaitu: Imam yang adil, pemuda yang selalu beribadat kepada Allah, orang yang hatinya sentiasa terpaut kepada masjid, dua orang yang saling cinta-mencintai kerana Allah, mereka bertemu dan berpisah kerana Allah, seorang laki-laki yang diajak oleh perempuan yang kaya dan cantik melakukan maksiat, lalu dia berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah,” seorang laki-laki yang sentiasa bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah dinafkahkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang sentiasa ingat kepada Allah (berzikir) di tempat yang sunyi sehingga matanya mengalir air mata.” (Hadis riwayat Bukhari).
Berdasarkan hadis di atas, jelaslah bahawa pemuda dan remaja yang hebat itu ialah pemuda yang tahan ujian dan mempunyai jati diri serta tidak mudah terpengaruh semata-mata cinta dan takut kepada Allah Subhanahu Wataala.
Selain itu, Allah Subhanahu Wataala memberikan ganjaran dan petunjuk kepada orang-orang yang beriman dan takut kepada Allah Subhanahu Wataala dengan membuat perkara yang disuruh dan menjauhi segala perkara yang dilarang-Nya. Perkara ini jelas sebagaimana kisah ashhab Al-Kahfi disebutkan dalam Al-Quran, Allah berfirman yang tafsirnya:
“Kami ceritakan kepadamu (wahai Muhammad) perihal mereka dengan benar: Sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambahi mereka dengan hidayah petunjuk.” (Surah Al-Kahfi: 13).
Harus diingat mengamal dan mengikut budaya asing, terutamanya di dalam meraikan hari-hari tertentu tanpa mengetahui latar belakang perayaan tersebut, sebenarnya akan menjerumuskan umat Islam kepada kehancuran kerana perkara-perkara seperti ini bukan sahaja menjejaskan akhlak orang-orang Islam bahkan boleh menjejaskan keimanan dan akidah mereka.